Senin, 16 Maret 2009

megawati

Dr (HC) Megawati Soekarnoputri (01)

Mbak Pendiam itu Emas

Diam (tak banyak bicara), akhirnya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati. Kendati, mendapat tekanan dan rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam dan sabar. Buahnya, dia pun berhasil menggapai singgasana Presiden RI ke-5.

Karena terlalu diam, beberapa pengamat dan lawan politiknya sempat menuding itu sebagai indikasi kebodohan. Namun Megawati tetap diam dan sabar. Para lawan politiknya menjadi semakin penasaran. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Tampaknya, ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung Karno ini pun semakin sulit ditebak.

Megawati Soekarnoputeri (02)

Pemimpin Berkepribadian Kuat

Majalah Forbes Edisi 4 September 2004 menempatkannya perempuan kedelapan terkuat dunia. Dia pemimpin berkelas dunia. Seorang pendiam berkepribadian emas. Presiden RI ke-5 ini teguh memegang prinsip, konsisten dan visioner. Dia seorang pejuang sekaligus simbol dan inspirasi reformasi. Perjuangannya menegakkan demokrasi (ketika demokrasi terpasung) telah memicu keberanian tokoh-tokoh lainnya ikut dalam gerbong reformasi, yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh dan pahlawan reformasi. Jika jujur, harus diakui bahwa tanpa putri pertama Bung Karno, ini reformasi di negeri ini belum tentu terjadi.

Megawati Sukarnoputeri (03)

Bertekad Wujudkan Kedaulatan NKRI

Si Mbak Pendiam ini tampil lugas, berbicara cukup panjang dan bermakna. Tidak seperti biasanya, kali ini ia cukup lama berorasi dan cukup lugas menanggapi pertanyaan dari para wartawan. Seusai mendaftar pencalonannya sebagai Capres dari PDI-P berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, sebagai Cawapres, di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Rabu 12 Mei 2004, Megawati memaparkan visinya mewujudkan kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Megawati Sukarnoputeri (04)

Sudah Terbukti dan Teruji

Dua ‘saudara tua’ itu bertemu dalam satu paket Calon Presiden-Wakil Presiden Pemilu 2004. Hj. Megawati Soekarnoputri yang Ketua Umum DPP PDI Perjuangan dari kaum nasionalis-religius dan KH Hasyim Muzadi yang Ketua Umum PB-NU dari kaum religius-nasionalis. Keduanya mewakili dua arus besar aliran sosio politik, kultural, dan keagamaan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar